Lomba Blog Depok


kunjungi : lomba blog depok

Jumat, 30 Juli 2010

Antara Aku, Sunny, dan Kota Depok - Part V ~ June, It's Rock

O ya, dari pembicaraan aku sebelumnya dengan Kevin, ia sedikit menyinggung tentang June (baca : Jun). June Fatimah nama lengkapnya. Mau tahu bagaimana dia? Untuk lebih mempermudah, aku coba buat perbandingan antara June dan Sunny.

Andai, Sunny Sutra Suzhou nan lembut dari China, June bagaikan Wol Pashmina yang hangat dari Kashmir. Sunny sewangi melati, June seharum lavender. Putri Salju itulah Sunny, ini June setegar Wonder Woman.

Sunny lembut suaranya, manis bisikannya, merasuk di kalbu bikin kangen. June santun ucapannya, sejuk nasihatnya, menghujam ke hati jadi semangat.

Ibarat buah, Sunny seelok Apel Fuji, merah jambu halus, bentuknya bulat, terlihat manis segar. June semisal Pir Eropa, hijau merona cerah, lekukannya jelas, nampak sedap ranum.

Sudah bisa mengimajinasikan perbedaan mereka berdua secara fisik? Pasti belum bukan? Langsung saja mudahnya, bayangkan Sunny adalah Lindsay Lohan sedangkan June is Megan Fox.

Jika anda menyukai alunan Jazz dan R&B, Sunny juga. Tapi June, it’s Rock.

Senandung Sunny jika sedang bersamaku, seumpama Lea Salonga dan Bred Kane.

Anyone who's seen us..
Knows what's going on between us..
It doesn't take a genius..
To read between the lines...

Semarak keceriaan June saat kami berdua, dinyanyikan untukku lagu dari Hoobastank.

That I just want you to know..
I've found a reason for me..
To change who I used to be..
A reason to start over new..
And the reason is you...

Table Manner buat Sunny : appetizer dengan salad buah, main course dengan steak salmon with olive oil, dan dessert dengan es krim. Lihat selera June, tak ada remeh-temeh, fast food dan soft drink cukuplah. June, nikmat menyantap Sushi, makanan ini sehat kata dia. Tapi jangan sekali-kali menawarkan menu itu pada Sunny. Itu menjijikan terlihat dari mimik mukanya, seraya berkata : “Jepang adalah negara yang miskin sumber daya energi dan rempah-rempah, orang-orang di sana susah mendapatkan api dan bumbu, jadi mereka sejak lama terbiasa bersantap ala kanibal seperti itu.”

Attitude June, hampir tidak ada basa-basi, semuanya lepas terbuka. Tapi tidak sedikitpun mengurangi sikap respect dia pada siapapun. Kepadaku, tak pernah sekalipun dia memanggil langsung nama tanpa ada awalan. Aku selalu dipanggil Mas, meskipun akan lebih cocok jika dipanggil Om, karena pautan umur antara aku dengannya – silahkan dikira-kira – , saat dia masih duduk di bangku SD, aku sudah bengal di SMA, urakan kenal Metallica dan Sepultura.

Sunny lahir 5 tahun setelah kelahiranku. Dewasa tapi masih manja. Dia tidak betah jika tidur tidak dengan mama. Kalau mamanya tidak sedang di rumah, sejenak mau tidur biasanya telpon aku dan bilang, “Din..mama pergi, yaah aku tidur sendiri..” Ya, tiap kali mama pergi, pasti tingkahnya seperti itu. Aku mengejek sambil bernyanyi, “aku sedih, duduk sendiri, mama pergi, papa pergi, oh itu dia mereka datang, aku senang, hatiku riang.” Lalu Sunny tertawa kecil , “hehehe..hmn”. Sekejap sepi, tak ada suara, aku bilang, “halo..halo”, tidak dijawab. Zzzz.. Sunny sudah terlelap. Oh.. ternyata nyanyianku itu bak dongeng sebelum tidur baginya.

Senam aerobik, berenang, jadi aktifitas membakar kalori bagi Sunny. Ditunjuk menjadi Cheer Leader, atau didaulat menjadi pembawa acara resmi maupun seremonial biasa, bagi dia amat menyenangkan. June gemar hiking dan rock climbing, juga bersepeda ria baik di jalur hijau pegunungan ataupun di dalam kota yang berpolusi tak jadi masalah. Tampil dimuka umum, seperti didaulat MC untuk ikut memeriahkan acara di atas panggung merupakan hal risih dan amat tidak lucu buatnya.

Layaknya wanita modern, Sunny memiliki nomer rekening bank, nomer kartu kredit, nomer telpon pasca bayar GSM dan CDMA. Ditambah nomer kontrak PLN, PAM, Indovision, atas nama mamanya. Ada lagi nomer rekening rekan kerja, dan rekan binis kecil-kecilan. Nomer-nomer itu tidak pernah merepotkan dia dengan catatan ruwet. Jika urusan jatuh tempo bayar-membayar, sebelum masuk due date, dia cukup datang ke ATM dan memasukan semua angka penting itu lancar hafal di luar kepala! Sunny cakap mengira-ngira waktu, jarak tempuh, takaran bahan bakar, bagi Honda New City matic yang ia kendarai. Harga baru pertamax naik menjadi Rp. 6.500 perliter. Jika ia membeli seharga Rp. 50.000, tanpa waktu lama menghitung, ia sudah tahu kalau dengan harga baru tersebut, alat ukur SPBU akan mengisi sebanyak 7,5 liter lebih sedikit. Takaran bensin sebanyak itu cukup untuk menempuh jarak sekitar 5 sampai 8 kilometer perliter dikalikan 7,5. Diperkirakan kurang lebih total jarak yang bisa ditempuh mobilnya antara 40 hingga 60 kilometer. Terukur cermat baik kondisi lancar maupun macet.

Tingkat intelegensi June berada di bawah Sunny. Jika June mau membeli coklat putih Silver Queen Chunky Bar kesukaannya seharga Rp. 11.500 , lalu ia memiliki uang sebanyak Rp. 20.000, jumlah uang kembalian Rp. 8.500 baru akan terkalkulasi setelah ; lihat handphone Blackberry Gemini miliknya, masuk menu application , kemudian buka calculator.

Sunny hemat sekali, hemat untuk dirinya. Tapi tidak bagi diriku. Masih ingat kata ‘lucu’ yang selalu Sunny ucapkan jika acapkali melihat segala hal yang diinginkannya? Benar, ‘lucu’ bisa berarti bagus, cakep, cantik, keren, modis, memiliki bentuk dan warna yang menarik. Hingga berujung dengan kalimat yang tidak langsung diucapkan secara lisan tapi mudah dimengerti oleh laki-laki yang menyertainya yakni "beliin donk". Sunny melihat kebaya bordir model baru dia bilang, “ayank, itu lucu..” Ada kacamata modis dia suka, “ini lucu deh..han”. Sedang sale besar di gerai Adidas buat sepatu aerobik dan baju senam, “ah lucu banget mas”. Nokia baru merilis Handphone Communicator, “say liat niy, lucu kaan?” Ucapan kata ‘lucu’ itu selalu diiringi senyum sumringah nan riang, aku senang sekali melihatnya dan dengan senang hati pula memenuhi semua keinginannya. Tapi suasana senang mendengar rengek permintaannya yang manja mendadak netral dan cenderung suram jika aku khawatir kemudian hari ada telepon masuk dan menginformasikan : ”Halo selamat pagi pak Didin, saya Jansen dari Citibank, mau menginformasikan bahwa pagu limit pemakaian credit card anda sudah melewati batas.”

June bukan tidak suka ditraktir, tapi cenderung royal dan tidak sedikitpun perhitungan. Setiap kami makan bersama, seumpama hari ulang tahun baginya. Selesai makan, June selalu ingin dia yang bayar, ia cekatan untuk menjadi orang pertama yang membuka dompet. Janjian nomat – nonton hemat – jangan sekali-sekali telat datang. Telat sedikit ; 2 lembar tiket, 2 box Pop Corn, plus 2 Cup Coke sudah siap tersedia. Aku tinggal datang, duduk, diam, dengarkan, dan tonton filmnya. Jika aku mau mengganti uangnya, dengan alasan dan paksaan apapun, June pasti menolak halus. Di kantor, orang sebaik June menjadi incaran para debitor tanggung bulan yang selalu saja tidak cukup finansial hingga tanggal gajian berikutnya tiba.

Disamping memiliki perbedaan, baik kelebihan dan kekurangan, mereka tentu ada memiliki kesamaan. Baik Sunny maupun June menyukai teknologi baru. New Gadget seperti : handphone, music player, media player, dan laptop sudah barang tentu berganti-ganti model paling lama tiap tahun. Mereka tidak banyak peduli dengan kaidah Azaz Manfaat, yang penting modern dan enak dilihat. Sunny dan June menyukai otomotif. Honda All New City matic menjadi pilihan Sunny agar nyaman di perjalanan tanpa lelah menginjak kopling. June lebih memilih Honda All New Jazz manual, supaya mudah dikendalikan dan gesit buat menyalip. Luar biasa hebatnya, dua wanita itu mengenali aku betapa nyamannya berkendara pada posisi ‘stir kiri’.

Pisah dari Sunny lalu bertemu June, tidak ubahnya setelah lepas dari Mak Lampir kemudian terjebak oleh Nenek Sihir. Dua-duanya tipikal cewek jutek minta ampun. Terutama jika tamu bulanan mereka sedang datang. Entah hormon apa yang merubah peranggai mereka jadi begitu. Seingatku Sunny mendapatkannya pada minggu ketiga. Repotnya June, kerja sibuk dan stress sedikit bisa tidak menentu periodenya. Menandai jika mereka sedang ‘dapat’ mudah sekali. Cukup aku mengajukan ajakan seperti : makan bareng, jalan, nonton, kemudian mereka menolak dengan ketus seolah-olah aku mengajaknya sambil menyeret tangannya secara kasar. Nah itulah saat-saat mereka sedang ketiban bulan.

Benar adanya, ini bukan karena narsis jika aku mengatakan bahwa aku ini lelaki baik-baik. Dan sudah menjadi hukum alam bahwa : lelaki baik-baik, akan berjodoh dengan wanita yang baik-baik pula. Alhamdulillah, semua wanita yang dekat denganku termasuk golongan putih. Meskipun penampilan mereka tidak tertutup rapat bak gadis pesantren. Sunny dan June sangat menjaga kehormatannya. Kata ‘kehormatan’ yang ku maksud bukan terfokus pada konotasi seksual. Tapi lebih ketat daripada itu. Keduanya tidak suka membicarakan pornoaksi, risih melihat pornografi, dan jauh dari kata-kata kotor, serta caci-maki. Bersamanya jangankan jahil meraba, sengaja menyentuh jari kelingking merekapun, aku tidak pernah punya kesempatan.

Silahkan baca juga...




Rabu, 28 Juli 2010

Antara Aku, Sunny, dan Kota Depok - Part IV ~ Sang Penasehat Sepiritual

Adalah Kevin Ahmad namanya, teman dekatku di kantor. Tinggal di Jalan Genta, Depok II Tengah. Begitu dekat aku dengannya, setiap hal yang aku alami dan rasakan tak akan jadi rahasia buat dia. Sebaliknya dia denganku pun begitu. Aku menjulukinya : Si Penasehat Sepiritual.

Kevin sudah lama berpacaran dengan Alice. Di hati mereka telah terjalin rasa suka sejak SMP. Belum pernah tergantikan. Kok bisa? Hmn boleh jadi karena mereka bertetangga sejak kecil. Sehingga sudah belasan tahun hubungan itu terjalin. Teramat dalam, terlalu lekat untuk bisa dipisahkan.

Namun ada hambatan paling sulit antara keduanya. Hingga menyebabkan halangan, dalam mensahkan hubungan mereka yang kini telah mapan dan dewasa. Sulit? Ya, tapi sulit buatan manusia itu sendiri, hanya karena gengsi strata hidup yang sudah mendarah daging dalam tradisi budaya turun-menurun, dan berlangsung berabad-abad menjadi penyebabnya.

Alice Dewianti adalah seorang putri pertama, keturunan berdarah ningrat asal tanah Sumatera, Lampung Pepadun. Ayahnya seorang Kepala Suku, pemangku adat, banyak pengikut setia, serta amat disegani di kampungnya. Karena Alice anak pertama dari 'Sang Raja', maka ia adalah seorang Putri Mahkota –calon ratu- bagi sukunya. Tidak boleh ada yang menikahinya kecuali keturunan dari para ningrat kalangan mereka sendiri. Jika hal itu dilanggar, tidak hanya melanggar tata krama adat, namun petaka yang akan didapat.

Aku ini, Didin Gumintang adalah keturunan Ambon, dengan kombinasi Jawa, dan Betawi. Kalau dirunut dari garis silsilah bapak, aku masih bisa menyandang nama Pam (marga bagi orang Indonesia Timur) di belakang namaku : Tapilatu. Konon kakekku adalah serdadu KNIL dari Maluku, antek Belanda, orang Jawa pribumi menyebutnya : Londo Ireng. Alkisah dia terdampar di tanah pasundan Pandenglang Banten saat revolusi fisik, lalu menikah dengan nenekku, gadis Betawi Bekasi yang tinggal di sana dan kemudian melahirkan Papaku, Yosef Tapilatu.

Lantas apa hubungannya cerita ini, dengan info silsilah, antara Aku, Kevin, dan Alice? Hehehe... Itu hanya sedikit intro saja kawan, agar kalian cukup mengenal asal muasal tokoh dalam cerita ini.

Kevin punya masalah tentang kelanjutan hubungannya dengan Alice, seperti yang telah aku ceritakan di atas. Sedang aku masih bimbang, antara ingin bebas lepas hubungan dengan Sunny atau berlanjut kembali, CLBK (cinta lama bersemi kembali). Sekarang ada dua lelaki memiliki masalah melankonis yang sama. Secara psikologis keadaannya tidak jauh berbeda. Penyebabnya, pun tidak jauh dari itu-itu juga, yakni wanita. Kalau kami sudah saling curhat bisa makan waktu lama, banyak biaya, dan tempat berbeda-beda.

Minggu ketiga, tanggal 23, hari H gajian masih tanggung. Biasanya kami nongkrong di Warga (Warung Gaul) sekitar jalan Margonda Raya atau di Mal dan Plasa sekitarnya. Untuk menghemat biaya, kami cukup nongkrong di warung Bakso Mas Katam, berada di Ruko depan jalan Proklamasi. Menunya murah meriah, rasanya sedap, lezat, mengenyangkan, dan ditanggung halalan thayyiban : Bakso, Mie Ayam, Es Campur, Jus, dan bermacam-macam minuman.

“Gimana Vin , udah ngobrol serius sama ayahnya Alice?”

“Tambah ruwet aja Din, Pak Zein, sekarang canggung kalau papasan sama gw, kayaknya dia udah mulai mencium hubungan deket gw sama Alice.”

Suntuk tampak terlihat pada wajah Kevin, dia mulai menghisap dalam-dalam rokok Sampoerna Mild Menthol kesukaannya.

“Semua keluarganya, baik ibunya, nenek, paman-pamannya kompak mulai menjaga jarak sama gw, cuma adik-adiknya aja yang masih mau ngobrol dan bergaul, itupun karena -sebagai tetangga- mereka sudah biasa berteman sejak kecil, meskipun dari gerak-gerik bahasa tubuh mereka terkesan : "sudahlah jangan berharap bisa mempersunting calon Ratu kami, dia sudah dijodohkan oleh adat istiadat leluhur kami sejak dari dilahirkan."

Di sisi lainnya, bagai durian dan mentimun, menurut Kevin mengupamakan perbedaan strata hidup keluarga mereka berdua. Orang tua Alice, memiliki lahan kelapa sawit produktif seluas ratusan hektar di kampungnya. Belum lagi peternakan sapi sebanyak ratusan juga. Secara pendidikan, mereka berdua S2 dalam bidangnya. Ayahnya sebagai PNS Golongan IV, Ibunya seorang Dosen. Sedangkan bapaknya Kevin hanya seorang pensiunan tentara dengan pangkat terakhir Serka, ibunyapun hanya ibu rumahtangga biasa. Tiada yang istimewa dari keduanya.

Pak Zein Abdullah, ayah Alice -meskipun seorang perantau- juga seorang tokoh masyarakat yang disegani di lingkungan sini, Jalan Genta, Depok II Tengah. Segala macam masalah Rukun Tetangga dari : kerja bakti, ribut antar pasturi, kerusuhan anak-anak muda antar gang, sampai acara kompetisi tujuhbelasan, selalu bisa ditangani olehnya dengan tangan dingin dan bijaksana. Bukti kalau dia itu memang benar-benar berjiwa leader tulen dari darah buay (keturunan) suku Lampung Pepadun yang terkenal masih menganut budaya Endogami.

“Jadi Alice itu udah dijodohin keluarganya Vin? Pernah tahu kayak apa itu cowok?”

“Nga pernah, tapi dari sekilas yang gw tangkep dari obrolan gw sama Alice, itu cowok emang bagus banget kualitasnya. Jelas keluarga ningrat di Lampung. Bisa jadi masih famili sama Pangeran Edward Syah Pernong. Katanya lagi, nama bapaknya tuh cowok udah dijadiin Nama Jalan di daerah kampung Alice sana. Jadi dari Bibit, Bebet, Bobot udah nga usah ditanya lagi deh”

“Tampang tuh cowok gimana, ganteng nga?” Tanyaku cukup kejam.

“Dibilang gw nga pernah liat Din, lagian nga penting kayak gimana itu cowok, biar gimanapun Alice nga bakalan berpaling dari gw. Secara batin –gw amat yakin- diliat dari matanya Alice, kalau di hatinya nga ada cowok lain selain gw sama bapaknya. Lo tau sendiri, gw udah deket sejak kecil Din. Sampe-sampe kalau ada sesuatu yang kita masing-masing sembunyiin di hati bisa ketauan meskipun tanpa disebutin.”

Penjelasan Kevin pada bagian ini sungguh mengagumkan.

“Terus gimana sikap Alice sama usaha keluarganya untuk jodohin dia?”

“Dia bikin alasan kalo masih belum siap, dan terikat sama ikatan dinas Management Trainee di Bank Niaga, lo tau kan sekarang Alice masih tugas kerja di Yogya?”

Ada peribahasa mengatakan: seekor singa akan melahirkan seekor singa. Tepat sekali jika peribahasa itu ditujukan buat pak Zein dan putrinya, Alice. Pak Zein selain berpendidikan tinggi, beliau itu PNS jujur, berdedikasi, dan memiliki integritas mumpuni dalam tugasnya di Depkeu. Sedangkan Alice mulai dari langganan juara umum di sekolah, masuk kuliah di UI tanpa melalui UMPTN alias PMDK, lalu lulus dengan predikat Cum Laude. Kemudian setelah lulus kuliah diterima di bank bonafid melalui pendidikan MT. Setelah berhasil lulus MT dalam waktu cukup 1 tahun, sudah dipastikan langsung bekerja pada posisi Manager atau Kepala Cabang dengan gaji dan tunjangan yang tergolong mewah.

Ya jelas tahapan posisi kerjanya bukan seperti kita umumnya : jadi karyawan outsource dulu berbulan-bulan, dengan gaji sebesar 2x biaya sewa kost. Lalu menjalani kontrak kerja selama 2 tahun, jika masa 2 tahun kontrak sudah habis, tapi masih dibutuhkan perusahaan, maka di suruh membuat fake resign letter untuk mengelabui Depnaker, kemudian teken kontrak baru lagi. Jika dalam masa kontrak kedua, performa kerja masih bagus secara konsisten, bisa diangkat jadi staff tetap dengan sebelumnya wajib lulus psikotest HRD dan melalui masa percobaan selama 3 bulan. Kemudian jika bisa betah lama bekerja sampai 10 tahun dan nasib masih bagus, bisa diangkat jadi Supervisor. Selanjutnya kalau garis tangan memang cukup cemerlang, beruntung bisa diangkat menjadi Manager.

“Jadi harapan gw cuma Alice itu sendiri,” Kevin melanjutkan.

“Cuma Alice masih bingung cari cara buat bicarain ini semua sama keluarganya. Kalau salah jelasin bisa fatal akibatnya, bukan bagi Alice, tapi bagi gw Din, kalau keluarganya udah merasa nga nyaman atas niat gw sama Alice, gw bisa jadi target pembunuhan para anggota kelompok suku!”

“Dibunuh?” Tanyaku heran sambil terkekeh.

“Ya nga cara secara kasar, main tusuk sama badik misalnya, bisa jadi pakai black magic.” Tidak berkurang seriusnya Kevin menjelaskan, meskipun aku masih menganggap remeh ocehannya.

“Setahu gw Pak Zein orangnya saleh Vin, sering jadi imam shalat, masa orang begitu masih punya sifat ashabiyah, apalagi syirik?”

“Dengerin, gw jelasin asal lo tau Din, dalam pakem suku Lampung Pepadun, segala sesuatu mengenai adat, terutama mengenai kelangsungan klan, harus dirembukin secara musyawarah. Alice itu secara biologis emang anak kandung dari Pak Zein, tapi secara adat dia itu simbol dari kedaulatan suku. Boleh dikata, 'milik bersama' klan tersebut. Kalau dia menikah sama lelaki di luar suku maka bisa mengancam kelangsungan silsilah kekerabatan klan itu sendiri yang teramat agung bagi mereka.”

Kevin sudah mulai detail menjelaskan akar masalahnya, aku jadi mulai serius mendengarkan.

“Beda dengan pak Zein yang agama Islamnya kuat dan terbiasa hidup heterogen di Depok ini. Mayoritas anggota suku yang masih tinggal di Lampung, dari lahir, hidup bersosialisasi, menikah, mati, semuanya hanya berkutat di daerahnya sendiri. Mereka nga pernah terpengaruh sama jaman yang notabene udah berubah. Jadi bisa elo perkirakanlah betapa kolot dan kuatnya adat yang mereka anut. Nah, diantara mereka, nga sedikit yang mahir menggunakan kekuatan ilmu hitam. Alih-alih kalau salah satu diantara mereka udah merasa tersinggung dengan ulah gw ke Alice, apa nga mungkin gw bisa jadi sasaran jahat ilmu tenungnya? ”

Kali ini, paranoidnya sudah tidak aku tertawakan lagi.

“Udah paham kan lo? Bukan cuma pak Zein masalah utamanya Din, tapi kesepakatan diantara pemegang adat itu yang jadi barang mahal. Satu hal, ini umpama, Pak Zein udah setuju sama gw, tapi meyakinkan saudara, para sesepuh, tetua adat, orang awan dalam suku itu sendiri, biar ikut setuju juga, bukan perkara mudah, kayak semudah membalikan telapak tangan cuy.”

Bengong aku dibuatnya, tak disangka bisa serumit itu masalahnya. Bingung mau kasih komentar apa lagi. Biasanya aku banyak minta masukan dari Kevin, Sang Penasehat Sepiritualku ini mengenai langkahku ke depan dalam hubungangku dengan para wanita. Kali ini, ia seperti orang papa menagih timbal balik nasihat dariku.

Kini pesanan kami, Mie Ayam Bakso dan Es Teh Manis sudah lengkap dihidangkan oleh mas Katam sendiri, sang owner. Seingatku dulu dia berjualan masih pakai gerobak dorong, kemudian karena pelanggannya semakin banyak, dan Bakso Katam mulai terkenal, barulah dia membuat lapak berupa tenda tetap di pinggir jalan Proklamasi. Terakhir karena usahanya cukup lumayan maju pesat, dia sudah bisa menyewa kios ruko persis di samping Gang Genta. Menurut teman-temanku yang tinggal di Depok II Tengah, Bakso Katam itu ibarat Mc Donald bagi mereka. Tempat makan keluarga yang sesuai selera, murah, enak, dan terjangkau.

Tanpa pikir panjang karena baunya tercium sedap membangkitkan selera, aku mulai menyantap mie kesukaanku ini. Terlebih dahulu aku tuangkan saus cabe produksi Sin Li Food made in Cibinong Bogor yang rasanya khas pedas manis, dan harum rempah-rempah. Kalau dibandingkan saus merk terkenal seperti ABC atau Indofood, saus ini tergolong saus murahan. Tapi anehnya, justru aku malah lebih berselera jika makan Mie Ayam dengan saus Cap Mangkok ini. Maklumlah, lidah kampung barangkali.

“Apa nga ada solusi lain?” Aku coba melanjutkan pembicaraan kami yang sudah mandeg. Sambil mengaduk-aduk mie, dicampur saus dengan sumpit.

“Ada... Tapi sulit banget, hampir nga mungkin deh buat gw Din”

Alhamdulillah aku berucap di dalam hati. Ada juga solusinya. Aku menebak ini pasti nekat jalan keluarnya. Tidak salah lagi ini pasti : kawin lari.

Runaway with Her, Vin?” Godaku sambil mulai cengengesan lagi.

“Wah..nga lah Din, mesti mikir duabelas kali kalau gw mau berbuat nekat kayak gitu. Lagian gw masih mikir masa depan Alice sama anak-anak gw nanti. Nga nyaman banget, hidup tanpa restu mertua sama sanak saudara.”

“Jadi mesti gimana lagi?”

“Ada upacara tertentu dalam adat suku Lampung Pepadun, kalau lelaki diluar klannya mau meminang gadis dari sukunya. Namanya pengangkonan kalau nga salah.”

“Apaan Vin,..peng..ang..kotan?” Aku bertanya dengan memincingkan mata dan suara agak keras seperti orang tua yang sudah mulai rusak pendengarannya.

“Peng..ang..konan,” tegas Kevin. “Upacara pengangkatan anak, kalau bahasa kita.”

“Coba jelasin, gimana prosesnya? Syaratnya apa aja?”

“Jadi dalam prosesi upacara adat pengangkonan itu, gw akan di cariin bapak angkat dari suku Pepadun. Setelah jadi anak angkat, melalui bapak angkat ini, dia bermusyawarah sama kepala adat agar mensyahkan gw sebagai masyarakat adat Lampung Pepadun. Setelah resmi jadi bagian masyarakat adat mereka, barulah gw boleh menikah dengan Alice”

“Nah itu ada jalan terang, terus apa yang bikin elo trus mikir kalo itu nga mungkin buat elo?”

“UUD, ujung-ujungnya duit Din, upacara itu nga cuma sekedar basa-basi ritual aja. Biayanya gede banget, karena disamping mesti bayar uang adat atau disebut uang Uno, ngundang petinggi adat, semua angggota suku, sanak saudara, juga ada pesta besar segala.“

“Kira-kira berapa biayanya?” Atas pertanyaan ini, Kevin memandang malas padaku.

“Coba aja elo itung biaya kasarnya : bayar uang Uno, ngundang para petinggi adat, ngundang orang satu kampung, motong sapi minimal 3, belasan kambing, berkarung-karung beras, beratus-ratus kilo ikan, bikin kue-kue, makanan buat hidangan khusus beraneka ragam, belum lagi kalau ada panggung hiburan.”

Sampai disini penjelasan Kevin aku sudah membuat aku gerah. Ini anak pasti sedang mengigau.

“Itu dalam 1 hari, coba banyangin kalo acaranya makan waktu 7 hari, 7 malam?”

Mbuah..spontan es teh manis yang sedang aku hirup tersembur keluar.

“Uedan, ini upacara adat, apa upacara bikin melarat Vin?! Elo salah info kali?!”

“Udah elo jangan kaget dulu, itu baru perhitungan biaya pengangkonan, ada lagi uang untuk lamaran atau pineng bahasa adat sana , jumlahnya beda lagi Din”

“Aje gile, biaya apa lagi?! Berapa hah..puluhan juta?!” Seperti rentenir pelit yang enggan memberikan hutang pada petani miskin, aku berkata padanya sambil melotot.

Kevin langsung menepuk jidat, seraya tertawa mengejek tebakanku.

“Alice itu keturunan tertinggi Din, patokan pembayaran itu bisa diliat dari strata di bawahnya, nah anak bibinya pernah dilamar , uang pinengnya aja sebesar 100 juta, jadi kalau untuk Alice ya mestinya lebih dari itu”

Astagfirullah al aziiim, innalillahi wa inna ilaihi rojiuuun.” Aku beristigfar dan berserah diri dengan takzim sambil mengelus dada, tarikan nafasku terasa berat.

Pertama aku memohon ampun atas segala dosa yang pernah aku perbuat, kedua aku merendahkan diri, betapa aku ini milik Allah dan kelak akan kembali padaNya. Tak bisa dibayangkan temanku yang aku tahu persis kehidupan, penghasilan, dan keluarganya, bisa di timpa cobaan yang amat berat ini.

“Begini Vin,” kataku amat meyakinkan. “Yang jelas sudah ada titik terang kalau suku Lampung klan pak Zein itu tidak sekolot yang dikira, jadi minimal masih bisa ada harapan untuk menikah sama Alice, dan sori-sori aja, gw nga seratus persen percaya sama elo tentang biaya dan tetek-bengek yang mesti dikeluarin untuk upacara adat pengangkonan itu. Bisa jadi ini karena sikap paranoid elo sama keluarga Alice, jadi elo berpikiran serumit itu. Pak Zein orangnya moderat, disamping dia juga amat sayang sama putri sulungnya itu, jadi apapun yang Alice minta pasti dikabulkan!”

“Hmn.. betul juga lo Din, bisa jadi begitu, semua cuma prasangka, emang sih belum sekalipun gw ngobrol intens sama orangtuanya Alice, apalagi ke arah serius bicarain hubungan gw sama anaknya. Pak Zein wibawanya gede banget, dia baru ngedehem aja, gw udah ibarat kancil yang denger harimau mengaum, hehehe.. mengkeret ciut, tapi yah elo doain ajalah, semoga ada jalan keluarnya.”

Sinar mata Kevin sudah mulai terlihat bergairah. Selesai menghabiskan mie ayam bakso dan minum es teh manis, dia mulai menyulut rokok lagi. Hisapannya sudah mulai santai. Asap yang keluar dari mulut dan hidungnya mengalir lepas seperti tanpa dihembuskan.

“Gimana Sunny? Masih suka missed call elo Din?”

Pertanyaan Kevin ini seolah membebaskanku pada problemnya yang belum usai dan sulit dicari pemecahannya. Inilah yang aku suka dari sahabatku yang satu ini. Selalu peduli, dan siap sedia menerima curahan hati siapapun meskipun masalahnya sendiri masih segunung.

“Udah hampir setahun, gw nga berhubungan lagi sama dia, tiap kali dia telpon, nga pernah gw angkat atau callback, males Vin, cape ama adatnya.”

Sejujurnya, ini amat naif buatku, sok jual mahal, benci tapi rindu, padahal hari-hari aku lalui kosong lagi monoton. Dan jika, cukup menerima dering missed call dari Sunny, membuat gairahku menyala lagi. Seolah dia sudah jadi miliku seutuhnya dan sudah pasti mantap ada dalam genggamanku, tapi sesungguhnya semu karena aku hanya diam tak meraihnya. Senaif dan sebodoh-bodohnya lelaki saat itu, ya akulah orangnya.

“Si Tenyom, masih jalan sama dia?

Kevin menanyakanku tentang June. Teman dekatku saat ini, dia amat manis, eye cathing, anak gaul, sering tertawa lepas, supel, jarang –hampir tidak pernah- terlihat murung. Karena dia memiliki boneka Monyet lucu di meja kerjanya, jadi kami memanggil dia nama hewan itu, kami ucapkan secara terbalik : Tenyom.

“Hehehe,” aku tertawa getir. “Masih Vin, yah biasa gitu-gitu aja, datar.”

“Udah gw bilang Din, baca hati nurani, ngapain repot-repot ngebangun perasaan baru, lebih susah dari bangun gedung cuy, masalah sikap, sifat, mana ada pasangan yang bener-bener klop, maklumin kekurangan masing-masing lah, elo jangan nyiksa perasaan sendiri.”

Yang dimaksud Kevin itu adalah tentang hubunganku dengan Sunny dan belajar menerima serta memaklumi adat dia apa adanya.

“Sebaliknya, elo nga kasian apa sama perasaan Tenyom? Diajak jalan aja, status nga jelas”

Sang 'Penasihat Sepiritualku' kini sedang memainkan peran aslinya, dia mulai menyusupkan wejangannya. Kalau aku tulis semua perkataannya dalam hurup Latin bisa terangkum dalam berbab-bab, sedangkan kalau aku tulis dengan hurup Arab , ya bisa habis berjuz-juz.

Dari topik pembicaraan baru itu, mulailah Kevin banyak mengkritik sekaligus memberi masukan padaku. Tidak peduli dengan ramainya peminat Bakso Mas Katam yang datang, bahkan Mas Katam sendiri sesekali sempat ikut nguping pembicaraan kami. Sampai-sampai karena sudah kenal dan hapal dengan kami, para pengamen enggan masuk ke kiosnya karena lagunya pasti akan terdistorsi oleh curatan hati kami yang melebihi sound system Dolby.

Silahkan baca juga...





Selasa, 27 Juli 2010

Antara Aku, Sunny, dan Kota Depok - Part III ~ The Impossibility of Us

Seolah mati rasa, hampa tidak terasa, adegan action seru menegangkan dari Mission Impossible III yang diperankan oleh Tom Cruise berlalu kosong di depan mata. Sementara ragaku gontai duduk bersandar di kursi row G seat 15, yang empuk berlapis beludru bagaikan duduk di atas batu. 21 Cineplex Depok Town Square berhawa sejuk nyaman berubah gersang meradang.

Tepat disampingku Sunny duduk bungkam bertingkah kaku. Pipi chubby merah jambu yang selalu kupuja bak semanis dan serenyah buah apel seolah berubah menjadi buah senyum yang masam. Tidak ubahnya buah lobi-lobi merah ranum namun kecut, sungguh teramat kecut. Sikapnya seperti orang asing disampingku membuatku terasa seperti kacung. Ramahnya hilang menjadi ketus. Hasrat kami terasa hambar. Sikap care menjadi who cares.

Soundtrack instrumental khas film Mission Impossible karya komposer Lalo Schiffrin berdentang mengakhiri film action itu. Lampu bioskop sudah menyala terang. Para pengunjung, baik yang datang sendirian, berpasangan, atau berkelompok dengan tertib sudah mulai bubar menuju pintu EXIT. Tapi kami masih santai duduk dengan malasnya. Aku lirik Sunny, dia masgul, raut mukanya sepat, kedua bibirnya sinis mencibir.

Kami bicara hanya seperlunya, "Din, elo nanti temenin sebentar ke Margo City ya, ada yang mau gw beli, sebentar, udah itu langsung pulang." Ucap Sunny ketus.

Sebelumnya tidak pernah ada dalam kamus bicara padaku, Sunny memakai kata 'gw'.

Begitu juga kata 'elo', selalu dia ucapkan dengan kata : say, yang, han, bahkan terkadang, Mas. Aku jawab cukup dengan isyarat mengangkat alis, sorot mataku kosong. Kami diam membisu cukup lama.

"Keren ya filmnya?" Tanyaku, ingin memecah kebekuan.

"Ayuk keluar, katanya mau ke Margo City?" Sunny tetap diam.

"Sudah jangan marah terus." Aku paksakan tersenyum.

"Ayo bangun sayang," sambil kutawarkan tanganku untuk dia gapai. Tapi ditepisnya bak menghalau lalat, sambil mulutnya mendecak kesal. Matanya mencuri pandang padaku sepersekian detik. Persis anak balita yang sedang ngambek sama ibunya.

"Din, maaf ya, kalau aku hari ini pakai baju nga sopan," sambut Sunny OOT, dan langsung mengeluarkan unek-unek.

"Kamu tau nga? Tadi aku beli jaket seharga hampir 700 ribu cuma buat memenuhi selera kamu. Sampai aku bela-belain bayar gesek pakai kartu kredit. Buat nutupin aurat, biar bikin kamu nga riskan jalan denganku, biar kamu nyaman, biar kamu senang, biar kamu berhenti mengejek kalau aku ini berpakaian seperti mucikari. Tapi tega-teganya kamu tinggal pergi aku sambil ngambek, dan enak-enakan makan sendirian. Kamu pikir aku nga butuh kenyamanan juga? Memangnya yang butuh makan siang cuma kamu saja ya?" Sunny marah serius, namun intonasi suaranya tetap tenang. Aku hanya diam, tanpa penyesalan.

Kalau dicermati secara sekilas ucapan Sunny itu, aku ini egois sekali bukan? Baiklah kalau memang demikian, aku terima tuduhan itu. Tapi dengarkan dulu pembelaanku, agar jelas sebab-musababnya.

Siang itu kami janjian bertemu di Detos. Sudah hampir 2 jam lebih aku berdiri menunggu, namun Sunny belum datang juga. Sementara jam sudah menunjukan pukul 13 lewat. Pagi itu berhubung hari libur, aku bangun agak siang. Saat pergi aku belum sempat sarapan sedikitpun. Maklumlah anak kost, makan minum harus beli terlebih dahulu. Aku pikir nanti saja sekalian makan siang di Detos dengan Sunny. Saat jengkel kelamaan menunggu, dan lapar menjadi satu, Sunny datang tanpa permohonan maaf sama sekali atas keterlambatannya. Terlebih lagi, cara dia berpakaian ketat agak terbuka membuatku riskan. Karena emosi kata "mucikari" terucap lepas kendali. Aku menyesal telah mengucapkan kata itu, sungguh amat menyesal.

Lalu aku sarankan agar dia berganti pakaian dengan kubelikan baju biasa dulu untuk sementara. Sunny setuju, lalu kami ke gerai pakaian.

Waktu terus berjalan, sudah hampir jam 14 hanya untuk mencari baju pengganti, dan belum dapat juga. Aku katakan, "Beli yang mana saja, jangan pilih-pilih, untuk dipakai sekali ini saja, nanti tidak dipakai lagi juga tidak apa-apa," tapi Sunny tetap santai pilah-pilih hanya untuk mencari baju sesuai seleranya. "Dasar betina", gerutuku.

Lama-kelamaan perutku semakin keroncongan, lapar hebat, tanganku sudah agak gemetar. Daripada penyakit maagku kambuh, maka aku minta ijin untuk makan duluan, sementara dia terus mencari baju pengganti yang ia inginkan, lalu menyusul aku jika sudah dapat. Begitulah ceritanya.

Usai dari bioskop, kami keluar melalui pintu utama Detos menuju Margo City Square yang berada diseberang. Hiruk-pikuk kendaraan, lalu-lalang menyesaki jalanan Kota Depok yang beberapa puluh tahun lalu -katanya- masih didominasi oleh Delman dan Becak.

Di luar, mentari sudah terlihat condong ke Barat. Kilaunya mulai menguning. Pancaran sinarnya sedikit tertutup gumpalan awan putih, sehingga menghasilkan ray of light bergaris-garis lurus memencar seperti kilatan pedang tembaga.

Sore itu udara terasa amat sejuk. Bekas hujan lebat siang tadi masih tersisa. Genangan air jernih di jalanan beraspal dan paving blok menjadi cermin bagi gedung, awan, dan langit di sekitarnya. Sesekali gerimis hujan jatuh mengguyur disertai angin lembut, rintiknya bagaikan butiran gula pasir yang ditabur dari langit. Di sisi Timur, di atas atap Margo City Square yang bentuknya mirip harpa raksasa, tampak kombinasi warna Me Ji Ku Hi Bi Ni U melukis pelanggi tipis, melengkung dari Utara ke Selatan. Terlihat barisan burung Bangau putih terbang berkelompok membentuk huruf V beraturan.

Sejatinya suasana seperti itu menjadi suasana yang amat indah bagi kami. Tapi rintik hujan lembut bagaikan taburan gula pasir yang menaburi rambut hitam Sunny, dimataku sudah seperti butiran racun arsen yang mematikan. Cermin wajah kami pada genangan air di paving blok jelas merepleksikan aura permusuhan. Lakon yang kami mainkan bukan lagi jenis cerita romantis, tapi kaku bagai pertunjukan Pantomim.

Meskipun masih berjalan beriringan, tapi rasa bangga menjadi pelindung dan pendamping setia 'bidadari' ini juga sudah pudar. Aku sama sekali tidak bisa mengimbangi gemulai cara berjalan Sunny. Jika biasanya kami berjalan seperti pasangan dansa, baik leader maupun follower bergerak seimbang seirama, sekarang gerakan kami sudah seperti bermain bola antara gelandang dan striker.

"Din , lo jalan jangan cepet-cepet donk, kalo udah nga mau nemenin ya sudah pulang sana!" Sunny sudah mulai emosi.

"Buruan, udah mau hujan nih, ntar kalau kehujanan kamu bisa sakit," alasanku.

"Ah jangan sok perhatian gitu deh, emangnya kalo gw sakit elo peduli apa?!"

Tidak ada gunanya aku meladeni ocehan emosional macam Mak Lampir kehilangan tongkat saktinya ini. Kalau marah sudah meliputi hati, yang manis jadi pahit, yang benar selalu dipastikan salah.

Kini kami mulai memasuki Margo City. Gedung ini terkesan lebih nyaman daripada Detos. Ruangnya lumayan luas, tampak modern dan dinamis. Bangunannya memiliki luas hampir 7 hektar. Dengan tinggi 40 meter dan memiliki 4 lantai yang terdiri dari Basement, Lantai Dasar, Lantai I, dan Lantai II. Lengkap dengan Eskalator, Travelator, dan Lift guna kenyamanan pengunjungnya. Tiap-tiap lokasi memiliki nama zona berbeda sesuai peruntukannya. Margo Zone untuk tempat penjualan makanan, minuman, dan restoran. Margo City untuk tempat beragam gerai pakaian, asesoris, dan life style, serta O-Zone yang berada di luar area sebagai arena bermain dan olahraga.

Bagaikan manusia transparan yang ada bersamanya, aku sudah tidak dianggap. Tanpa basa-basi denganku, Sunny masuk ke sebuah salon kecantikan. Dia meminta Hair Rebonding Treatment. Tampak sudah terbiasa menggunakan jasa salon itu, tanpa canggung dia langsung dilayani sesuai permintaan. Setahuku proses rebonding butuh waktu lama, padahal dia bilang hanya mau beli sesuatu dan sebentar saja di Margo City, setelah itu langsung balik. Sekali lagi akhirnya aku harus menunggu. Menyebalkan!

Waktu sudah pukul 17:00, lalu aku Shalat Ashar. Sejam kemudian masuk waktu Magrib aku shalat lagi. Sudah 2 waktu shalat tapi proses pelurusan rambut itu belum selesai juga. Sebentar lagi sudah masuk waktu Isya, dan masih tidak ada tanda-tandanya Sunny mau selesai. Mungkin nanti jam 19:30 pikirku. Tapi sudah jam 20:00 masih belum selesai juga! Aku coba masuk melihat ke dalam.

"Masih lama ya", tanyaku pada Sunny. Dia tidak menjawab, wajahnya menoleh ke arah lain. Sialan, aku dikacangin.

Aku tunggu dekat resepsionis tidak jauh dari Sunny direbonding, karena salon itu tidak luas. Ku lihat dia, sambil tertawa, online dengan seseorang. Samar-samar aku dengar dia memanggil nama sesorang, iya, nama seseorang. Nama seseorang yang telah sekian lama membuatku gusar. "Sang mantan!".

Betul tidak salah lagi, Sunny sedang online dengan mantannya.

Degup jantungku seolah berhenti berdetak. Mukaku merah padam, ingin sekali menangis saat itu. Hatiku nyeri, bagaikan tersayat sembilu. Tahukan engkau kawan, apa itu sembilu? Sembilu adalah pisau tipis yang dibuat dari kelat kulit batang bambu. Tajamnya setajam silet. Membayangkannya saja sudah membuat kita ngilu. Tapi kini, merah tua hatiku terasa sedang di letakkan di atas talenan, lalu diiris-iris dengan pisau sembilu oleh Sang Juru Masak : 'Chef Sunny'.

Lantas timbul dibenakku perasaan paranoid, seolah para penghuni salon yang kebanyakan para lelaki pecinta lelaki, dan bersuara gemulai juga serentak mengejeku, "ai aii, ini cowok gorjes deeh...sendirian aza suntuk cemberuut, ngapain siih, iih aike jadi gatel bo..."

Bulu romaku jadi merinding seperti ditiup setan, aku langsung keluar secepatnya.

Hmn baiklah kalau begitu, batas kesabaranku kini sudah habis. Lalu tanpa ijin denganya aku pulang sendiri. Hari itu, sudah berkali-kali aku terima ujian kesabaran dari Sunny dan hasilnya, tidak lulus.

Setelah sekian lama bersamanya, mulai dari beda cara pandang, krisis kepercayaan, egoisme, berujung pada keadaan bosan, jenuh, dan melelahkan, telah mengkondisikan sebuah keadaan rumit. Lalu semua kondisi itu teramu menjadi seongkok bubuk mesiu yang terpicu oleh percikan kecil hari ini sehingga tersulut dan meledak. Rasanya aku dan Sunny tidak tahan melewati ujian itu. Hingga dalam benak seolah kompak terbesit kalimat, "Kini saatnya kita sepakat untuk tidak sepakat!"

Seperti film kutukan, usai menonton film Mission Impossible, seolah berimbas pada masa depan hubungan kami menjadi impossible juga. Sejak itu hubungan kami perlahan rapuh kemudian hancur. Aku malas berhubungan dengan Sunny lagi. Kami benar-benar sepakat untuk pause hubungan ini. Biarlah Tuhan yang menentukan apa jadinya nanti.

Silahkan baca juga ...





Senin, 12 Juli 2010

Antara Aku, Sunny, dan Kota Depok - Part II ~ Depok Plaza

Kota Depok tidak asing buatku. Terutama untuk orang yang tinggal di Selatan Jakarta. Konon asal muasal nama Depok singkatan dari bahasa Belanda, "De Eerste Protestante Organiatie Van Kristenen," artinya Organisasi Kristen Protestan Pertama. Awal Depok dibangun pertama kali pada tahun 1681 oleh Cornelis Chastelein. Sudah dapat dipastikan dulunya Depok masih semak belukar, hutan belantara, banyak binatang buas, sepi penghuni, orang Betawi biasa menyebutnya tempat jin buang anak.

Saat ini sudah jauh berbeda. Gedung dan pemukiman baru banyak bermunculan. Berawal dari dibangunnya RSSS (Rumah Sangat Sederhana Sekali) atau Perumnas, kemudian Real Eastate, hingga Apartemen. Muncul juga tempat-tempat perbelanjaan dari pasar becek di pinggir rel, lalu Pasar Swalayan, Hypermarket, Plasa, kemudian Mall, dan juga Town Square. Landmark Kota Depok terbaru, entah ini suatu prestasi atau prestise, telah rampung dibangun sebuah Masjid luas nan megah dengan kubah mewah terbuat dari emas!

Jika anda berkendaraan lewat jalan Margonda Raya, jalanannya macet, padat merayap, dipenuhi angkot, kanan-kiri dihiasi tenda kaki lima dari kuliner beraneka macam jenis dan rasa. Karena alasan itu kebanyakan warga Depok yang bekerja di Jakarta lebih suka naik Kereta Api. Umumnya mereka menggunakan Kereta Api Kelas Ekonomi. Selain jadwalnya sering dan lumayan tepat waktu, juga murah meriah, bahkan bisa 'gratis'. Tapi anda wajib menyiapkan mental dan fisik, untuk berjubel ria dengan ribuan penumpang yang tingkat kedisiplinannya rendah, ratusan pencopet, pengemis, pengamen, seniman dadakan, pedagang asongan, juga para lelaki hipersex yang suka -maaf- menggesekan burungnya pada penumpang wanita. Anda mesti siap juga jika sewaktu-waktu kereta api tenaga listrik itu mogok, karena anjlok, disambar petir, atau kabel sinyal dicuri orang yang tidak bertanggung jawab.

Minggu jam 9 pagi aku sudah berada di Stasiun Manggarai. Kurang dari 1 jam naik Kereta Jabotabek jurusan Bogor -melewati 10 stasiun : Tebet, Cawang, Kalibata, Pasar Minggu baru, Pasar Minggu lama, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Pancasila, UI, Pondok Cina- lalu sampailah aku di Stasiun Depok Baru tujuanku. Arah Plaza Depok berada di seberang rel jika kita turun dari jurusan Jakarta. Untuk menyebranginya, kita harus lewat lorong bawah tanah stasiun yang pada malam harinya dihuni Tunawisma dan Waria.

Keluar stasiun, ramai penjual buah-buahan dari hasil bumi Depok, ada juga penjual makanan, minuman, rokok, kue, pakaian, pernak pernik perhiasan, dan lain-lain. Semua lapak, kios, meliputi sisi jalan sehingga membentuk lorong. Di ujung lorong jalan, kita akan bertemu Terminal Depok. Seperti umumnya terminal dalam kota, terminal itu padat sekali, cenderung semrawut. Tumpah-ruah bermacam moda transportasi darat : Mikrolet, Bis, Kopaja, Angkot yang memiliki jalur ngetem berbeda. Kepadatan armadanya menyebabkan beberapa angkot memiliki pangkalan di luar terminal. Dengan lokasi yang strategis, karena berada tepat di tengah kota, dan pusat perbelanjaan, serta langsung terhubung dengan jalan utama Margonda Raya. Terminal ini memiliki aroma khas -sniff...sniff- bau pesing amoniak menyengat.

Di depan terminal, seberang jembatan penyeberangan, di situlah Plaza Depok berdiri. Kami janjian di lantai 2, sisi Barat, dekat Game Center, samping Hokben, tepat di Pizza Hut titik point pertemuan kami. Aku datang lebih awal seperti mau interview kerja di perusahaaan Telco yang memiliki pelanggan puluhan juta, dengan penawaran gaji 3x lipat dari perusahaan sebelumnya, juga bonus tahunan yang besarnya belasan kali gaji pokok. Berpakaian casual -ngga matching- kaos merah, celana abu-abu, sepatu coklat merk Next. Ditambah Parfume Issey Miyake for Men, membuatku cukup percaya diri. Sekedar mengisi waktu luang aku sempatkan melihat serba-serbi isi Plaza Depok. Ke toko buku, gerai pakaian, toko jam tangan, sambil mataku jelalatan melihat tiap-tiap pengunjung wanita kalau-kalau ada yang mirip Sarah Azhari.

Handphonku berdering sekali, kulihat ada 2x missed call dari Sunny. Rupanya aku tidak mendengar telponnya saat jalan-jalan tadi. Dengan sigap ku callback panggilannya, "ya halo Sunny dimana? Aku sudah sampai."

"Aku juga sudah sampai di Pizza Hut niy, sudah pesan malah."

"OK aku segera kesana, Sunny duduk sebelah mana? Pakai baju apa?"

Pertanyaan cukup detil ini, disaat mendekati blind date, bukan untuk bertujuan memantau dari jauh calon teman kencanku, kemudian langsung kabur diam-diam menghindar jika wanita yang akan ditemui itu jauh dari ekspektasi. Tidak, tidak begitu bawaanku, aku ini lelaki penuh tanggungjawab.

"Aku duduk pas arah pintu masuk, berdua sama adikku pakai jilbab putih, buruan Didin ke sini pizzanya sudah diantar." Jawab Sunny dengan suara seperti sedang mengunyah.

Lewat eskalator aku langsung menuju Pizza Hut di lantai 2. Restoran itu dibatasi dengan dinding kaca sehingga kita bisa langsung melihat isi pengunjungnya dari luar. Jadi sebelum masuk, aku sudah bisa mencari posisi duduk Sunny. Searah pintu masuk, kulihat 2 wanita sedang duduk berhadapan. Yang satu berkulit putih, berambut panjang, dan yang satunya lagi memakai jilbab. Aku fokuskan pandanganku pada wanita berkulit putih -seperti sudah saling kenal- aku coba melambaikan tangan padanya. Wanita itu membalas lambaianku sambil tertawa kecil seolah berkata, "Iya benar sayang, ini aku yang kamu cari."

Saat aku mau masuk, serta-merta pelayan dengan sopan dan ramah membukakan pintu sambil berkata , "Silahkan, bisa saya bantu?" Tak acuh, karena mataku hanya tertuju pada Sunny, aku langsung nyelonong masuk, dan lupa mengucapkan terimakasih. Sunny pindah duduk di samping adiknya, lalu menyilahkan aku duduk. Kini, wanita yang selama ini hanya aku kenal lewat suaranya saja, berada langsung dihadapanku.

"Hai..kok tau sih kalau aku ini Sunny?" Aku hanya cengengesan, dan kagum, asli kayak artis, cantik mempesona, putih seputih melati, lembut selembut bulu kemoceng.

"Didin mau pesan apa?" Tanya Sunny sembari menaruh potongan Pizza Meat Lover’s dengan Stuffed Crust Cheese di piringku, kemudian menuangkan Lemon Tea ke gelasku yang sudah berisikan es batu. Cekatan, namun halus, gerakannya anggun, penuh perhatian.

"Oo nga usah, makasih, ini aja cukup kok." Bertemu dia laparku hilang, mataku menegaskan, sayangku, kamu tidak mirip Sarah Azhari, tapi lebih mirip Nabila Syakieb.

"Kenalin ini adikku Dea." Kami saling menyodorkan kedua telapak tangan terkatup, tanpa saling bersentuhan seraya menyebutkan nama. Pikiranku heran, orangtuanya gimana ya cara bikinnya? Kakak beradik dua-duanya cakep tanpa cacat.

"Mirip nga kita berdua? Cakep mana kakak sama adiknya?" Sunny mengakrabkan kami semua, ceria sekali. Batinku memohon ampunan, maafkan saya ya Bahrudin, kamu benar, kamu manusia paling baik di muka bumi.

Berangkat jam berapa dari Kost, macet ya?" Tetap antusias, Sunny terus bertanya.

”Jam 9, naik kereta jadi nga kena macet.” Harapanku kian merancau, oh Tuhan, diakah jawaban dari doa-doa ku?

"Wah desek-desekan dong, pengen ya sekali-kali nyobain naik kereta, kayak apa rasanya, hehehe seru kali ya Din?"

"Ya gitu deh, abis cuma itu transportasi yang cepet." Kalah gengsi aku jawab agak malu. Tinggal di Depok tapi tidak pernah naik Kereta? Ini hal langka, kejadian anomali. Setahuku Kereta adalah nafas transportasi warganya. Tersadar aku, anak orang kaya nih.

“Iya sekarang Depok dimana-mana macet, padahal ini hari minggu. Aku aja bawa mobil bisa sampai 1 jam sampai sini, padahal deket, mana nanti mau ke bengkel lagi. Capek dee.” O ow, dia bawa mobil sendiri, minder aku.

Sementara pikiranku campur aduk antara senang dan minder, Sunny terus memakan Pizza dengan lahapnya. Sayang sekali, jika ia bisa sedikit menjaga diet, hingga bisa turun berat badannya sebanyak 2 kilo saja, dia akan benar–benar mirip dengan Nabila Syakieb, atau bahkan Lindsay Lohan sekalipun.

Chubby menggemaskan pipinya, halus tidak berminyak, putih cemerlang sewarna dengan mutiara, tanpa bedak dan make up sedikitpun. Rona wajahnya merah jambu, seperti rutin facial dan lulur. Kalau tertawa, garis lancip hidung dengan kombinasi gigi yang tertata rapi terlihat manis sekali. Rambutnya tebal mengembang, hitam mengkilat dibelah tengah, ujungnya rapi karena tidak dipotong shaggy atau layer, halus jatuh tergerai utuh, sering creambath dan rebounding pasti. Sesekali ia menyelipkan rambutnya ke telinga, sexy sekali gerakannya. Memakai sweater tipis lembut menyatu ke badan, laksana sedang berpakaian leotard untuk menari ballet. Terlihat kontras nun serasi antara warna hitam sweater model lengan sebatas siku, dengan putih lengannya yang berbulu halus.

Tercium bau harum bercirikan khas Floral Oriental dari tubuhnya. Dugaanku -dan ternyata benar- dia memakai Parfume Kenzo Flower. Harumnya aroma wangi bunga, tercipta dari ramuan Rose, Violet, dan Jasmine. Berpadu dengan Opoponax, Vanilla, dan White Musk. Wewangian itu memberikan kesan Feminine, Sweet, dewasa, dan menggairahkan. Semerbak sekali, bagaikan suasana bertabur mawar merah hati di tempat kami makan siang bersama Sunny.

Usai pengalaman kencan pertama dengannya aku sudah mulai diliputi rasa pesimis. Sulit mencari alasannya jika wanita cantik diatas rata-rata itu selanjutnya sudi kenal dekat denganku. Apalagi berharap bisa jadi pacar, mimpi kali. Penyakit tidak PD mulai menghantui. Tapi tidak ada salahnya kalau aku hanya ingin sekedar berteman bukan? Jangankan teman tapi mesra, teman biasa saja pun aku rela. Wo o aku rela, ku relaa.

Khusus kaum wanita, ada banyak sisi yang mereka lihat pada diri kaum lelaki sehingga membuatnya jadi tertarik. Jauh lebih bervariatif daripada lelaki melihat sisi wanita. Tidak jarang kita melihat -misalnya- wanita cantik berpasangan dengan pria culun layaknya majikan dan pembantu. Diketahui ternyata si wanita tertarik dari sisi kecerdasan pria itu, atau talenta unik dari sang pria yang tidak dimiliki pria lain, atau dari sikap perhatian yang amat sangat kepadanya hingga membuat si wanita jatuh hati.

Bukti sikap ganjil wanita seperti itu banyak sekali, dari cerita klasik seorang Putri jatuh cinta pada seekor kodok, atau kisah si buruk rupa dan si cantik, The Beauty and the Beast. Cerita terbaru tentang Fiona sang putri dari kerajaan Far Far Away, rela membiarkan dirinya tetap dikutuk menjadi Ogre selamanya, agar bisa hidup bersama Shrek si raksasa hijau menakutkan, yang tinggalnya pun hanya di rawa-rawa. Itu semua contoh dalam dongeng. Tapi dalam dunia nyata pun ada, lihatlah pasangan Christian Karembeu dengan Adriana Sklenarikova, atau Siti Nurhaliza dengan Datuk Khalid.

Jadi kesimpulannya, bagi kaum wanita "ganteng itu relatif, -tergantung dari sisi mana dia melihatnya- sedangkan jelek itu pasti".

Tapi umumnya, 99,99% sisi yang menjadikan pria itu menarik dimata wanita, apa lagi kalau bukan 'bawaannya'. Lantas cowok kere macamku hanya bisa berharap kemungkinan yang 0,01% itu ada pada Sunny dalam menilai diriku. Oh..Dunia ini memang sungguh tidak adil.

Itulah awal cerita perkenalanku dengan Sunny, dan sekilas gambaran tentang Kota Depok. Serba-serbinya lebih banyak lagi aku kenali kemudian, setelah ternyata aku termasuk bagian lelaki yang paling beruntung di muka Bumi karena mendapat 0,01% kemungkinan berharga itu.

Selanjutnya, aku lebih banyak mengenal lokasi–lokasi menarik di Depok seperti : tempat makan yang paling enak, tempat belanja yang paling lengkap, tempat membaca yang paling nyaman, tempat nonton yang paling asik, dan tempat - tempat menarik lainnya.

Silahkan baca juga ...